Oleh : H.M.D. Datuk Palimo Kayo (alm)
1. Jauh sebelum tahun 1900, sudah berjalan lama pengajian di Surau
Jembatan besi Padang Panjang di bawah asuhan Syekh Abdullah, merupakan
salah satu di antara pengajian-pengajian cara lama yang banyak tersebar
di Minangkabau. (Catatan : Pada mulanya terdapat di tempat itu hanya
jembatan kayu yang pakai atap, kemudian diganti dengan jembatan besi.
Itulah pertama kali adanya jembatan besi di Padang Panjang dan terkenal
Surau Jembatan Besi , yang kemudian menjadi pusat pertumbuhan Ulama dan
Zuama Islam yang bertebaran ke seluruh Indonesia).
2. Pada tahun 1907 Syekh Abdullah pindah mengajar ke Padang, dan
pimpinan pengajian Surau Jembatan Besi pindah kepada Syekh Daud Rasjidi
(ayahanda dati H.M.D. Dt. Palimo Kayo) dan murid-murid pengajian
bertambah-tambah mendapat kunjungan dari negeri-negeri sekelilingnya dan
pelajaran kitab-kitab Arab meningkat.
3. Berhubung dengan keberangkatan Syekh Daud Rasjidi ke Makkah al
Mukarramah untuk memperdalam pengetahuannya dengan Syekh Ahmad Chatib,
sementara digantikan oleh kakak beliau Syekh Abdul Lathif Rasjidi
(ayahanda H. Mukhtar Luthfi). Tidak lama kemudian pada tahun
1901pimpinan Surau Jembatan Besi pindah ke tangan Syekh Abdul Karim
Amarullah yang waktu itu terkenal dengan sebutan Inyiak Haji Rasul
(ayahanda dari HAMKA).
4. Di bawah asuhan Syekh Abdul Karim Amarullah, pengajian Surau Jembatan
Besi bertambah maju, pelajaran kitab-kitab Arab bertambah meningkat,
penuntut-penuntut ilmu agama (yang wktu itu terkenal dengan sebutan
orang siak) bertambah banyak berdatangandari sekeliling Minangkabau dan
juga dari daerah-daerah lain, Tapanuli, Aceh, Bengkulu, Malaya, Siam,
dll.
5. Pada tahun 1912 jiwa ber-organisasi bertiup kencang menghidupkan
kebathinan penuntut-penuntut ilmu Surau Jembatan Besi, maka terbentuklah
satu organisasi dari guru-guru dan pelajar pengajian Surau Jembatan
Besi, mulanya bernama SUMATERA THUWAILIB dan kemudian bernama Sumatera
Thawalib.
6. Organisasi tersebut pada tahun 1914 telah berubah bentuk , pengajian
Surau Jembatan Besi mendekati bentuk Sekolah, terdiri atas tujuh kelas,
dengan kitab-kitab yang lebih teratur untuk setiap kelas dengan Pimpinan
Guru Besar Syekh Abdul Karim Amarullah dan Tuangku Mudo Abdul Hamid
Hakim selaku wakil Guru Besar dan dibantu oleh guru-guru dibawahannya,
dan pengawasan dari Pengurus Sumatera Thawalib yang ketika itu diketuai
oleh Engku Hasjim Tiku dan dibimbing oleh Zainuddin Labay El Junusy yang
baru saja pulang dari Padang Panjang. Pengajian Surau Jembatan Besi
semakin maju dan ramai, walaupun masih duduk bersela di kelas
masing-masing.
7. Pada tahun 1915 Zainuddin Labay El Junusy menciptakan suatu system
Perguruan Islam yang terbaru bernama Diniyyah School atau Madrasah
Diniyyah, yang lebih banyak memasukkan pelajaran-pelajaran ilmu umum,
telah menyebabkan Perguruan Sumatera Thawalib semakin hebat berlomba
atas kebajikan. Kemajuan Perguruan Islam bertambah meningkat dengan
Sumatera Thawalib yang lebih menjurus kepada ‘Alim Ulama ahli fiqih,
sedang Madrasah Diniyah mengikutsertakan ilmu Umum. Sehingga
kedua-duanya merupakan kader Alim Ulama yang intelek.
8. Modernisasi Pengajian surau-surau yang telah dimulai oleh Surau
Jembatan Besi tersebut sudah menjalar ke tempat lain, dan bertumbuhanlah
Sumatera Thawalib di Parabek di bawah pimpinan Syekh Ibrahim Musa, di
Padang Japang di bawah pimpinan dua orang bersaudara Syekh Mushtafa
‘Abdullah dan Syekh Abbas ‘Abdullah, di Sungayang di bawah pimpinan
Syekh Muhammad Thaib, di Maninjau di bawah pimpinan Syekh Abdul Rasjid
dan lain-lain. Masing-masingnya berlomba-lomba untuk lebih maju,
sehingga pelajar-pelajar pun semakin bertambah membanjir, juga yang
berdatangan dari luar pulau Sumatera dan juga Malaya dan Siam.
9. Pada tahun 1918 Sumatera Thawalib Padang Panjangmelangkah maju lagi
ke depan, di samping meningkatkan pelajaran dalam Perguruan Thawalib,
juga mulai mengadakan penerbitan Majalah Al Munir dipimpin oleh
Zainuddin Labay El Junusy dibantu oleh Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim,
memuat karangan-karangan yang berisi : Pelajaran atau nasehat Agama,
menjawab pertanyaan-pertanyaan, memberantas khurafat, tahkyul dan
bid’ah, serta sejarah dll.
10. Untuk kesempurnaan dan memupuk perkembangan ilmu karang mengarang
(menulis), Sumatera Thawalib mengadakan Debating Club sekali seminggu
yang diikuti oleh guru-guru dan pelajar-pelajar Thawalib yang sudah agak
besar. Dalam Debating Club diasuh dan diasah mengarang, berpidato,
berdebat, dan berlatih mengemukakan suatu pandangan dan mempertahankan
pendapa-pendapat masing-masing. Dan disamping usaha penerbitan majalah
Al Munir itu diadakan perpustakaan untuk mengumpulkan surat-surat Kabar
dan Majalah-majalah dari seantero Indonesia (yang waktu itu disebut
Hindia Belanda), juga surat-surat kabar dari Mesir. Sehingga kantor
Al-Munir itu setiap sore penuh dikunjungi oleh pelajar-pelajar untuk
membaca surat-surat kabar dan buku-buku baik yang berisikan politik,
ekonomi, social dan pendidikan, menyebabkan pelajar-pelajar Thawalib
mendapat pandangan yang luas selain dari pelajaran-pelajaran di Thawalib
ataupun di Diniyah.
11. Perkembangan yang demikian juga menjalar ke Perguruan-perguruan
Thawalib yang lain, sehingga : di Parabek terbit Majalah Al-Bayan di
bawah pimpinan Sain Al-Maliki dibantu oleh Jama’in Abdul Murad, di
Sungayang terbit Majalah Al-Basir di bawah pimpinan Mahmud Junus dan
Mahmud ‘Azizi, di Padang Japang terbit Majalah Al-Imam di bawah pimpinan
Sa’aduddin Siarbaini, di Maninjau terbit Majalah Al-Ittiqan di bawah
pimpinan Mahmud Rais, di Padang Panjang terbit lagi Majalah “Perdamaian”
disamping majalah Al Munir yang dipimpin oleh H. Djalaluddin Thaib.
12. Disampinh kemajuan buku-buku pelajaran B. Arab untuk Thawalib dan
Diniyyah yang sengaja dipesan dari Mesir, Damaskus, Beirut, Makkah dan
lain-lain, mulailah pula pelajar-pelajar Thawalib dan Diniyyah ketika
itu mendapatkan bacaan majalah-majalah, brosur-brosur dan surat kabar
bahasa Arab dari Timur tengah itu. Umumnya berisikan propaganda
pergerakan politik perjuangan kemerdekaan. Karena bertepatan pada ketika
itu kebangkitan bangsa Arab yang berjuang melepaskan belenggu
penjajahan bangsa Barat atas Tanah Air mereka. Karenanya setingkat lagi
kemajuan Thawalib dan Diniyah ketika itu, bukan saja menjadi Pembina
kader ulama dengan system pembaharuannnya tetapi juga merupakan sumber
kader Pemimpin dan Pejuang kemerdekaan bangsa Indonesiayang diserap dari
Timur Tengah itu. Maka para kader Alim Ulama dan Zu’ama dari Thawalib
dan Diniyah itu lebih banyak belajar perfgerakan politik dari Timur
Tengah yang bernafaskan Islam.
13. Untuk meningkatkan kader Alim Ulama maka Sumatera Thawalib Padang
Panjanh mengadakan perubahan, menambah kelas menjadi 6A daN 6B, barulah
diteruskan ke kelas 7. Pada pokoknya kelas 7 itu hanyalah untuk kuliah
penghabisan yang dipimpin langsung oleh guru besar Syekh Abdul Karim
Amarullah , juga diikuti oleh guru-guru Agama dari sekeliling
Padang-Panjang. Kelas 7 itulah yang tertinggi, sehingga dari kelas 7 itu
sudah boleh dilepas untuk mengajar sendiri kemana-mana saja.
14. Pada tahun 1920 semangat persatuan dan perjuangan mukin meningkat,
maka terjadilah suatu permusyawaratan antara Sumatera Thawalib dari
berbagai tempat yang berlangsung di Padang Panjang, yang telah
menghasilkan satu keputusan yang sangat berharga, yaitu : Mempersatukan
seluruh Perguruan Islam Thawalib dengan pimpinan pengurus besar yang
pertama , terdiri dari : H. Djalaluddin Thaib, Voorzitter, dan Thaher by
Secretaris teven Penningmeester, serta beberapa orang Commissarisen.
Itulah hari bersejarah yang sangat penting dalam mewujudkan persatuan.
Perguruan-perguruan Islam yang kelak menjadi promoter perjuangan Ummat
Islam khususnya di Minangkabau ini.
15. Pada tahun 1921 Sumatera Thawalib Padang Panjang mulai melangkah
melatih diri dalam bidang koperasi dan perekonomian pada umumnya.
Pertama kali menyediakan minuman kopi/ teh dan kue-kue untuk
pelajar-pelajar Sumatera Thawalib yang sudah berjumlah lebih dari 1000
orang dalam bentuk sebuah nama “Buffet Merah” dimana disediakan juga
alat-alat kepentingan pelajar-pelajar berupa pena, pensil, bulu-buku
tulis, singlet, benang, penjahit dsb. Kemudian mengadakan juga
perusahaan dobi, rumah pangkas semata-mata untuk kepentingan pealajar.
16. Pada tahun 1922 tamatan Sumatera Thawalib sudah mulai dimanfaatkan.
Pertama untuk mengajar di negeri masing-masing, menjadi Tuangku (Qadhi,
Imam, Khatib), mendidrikan pula Sumatera Thawalib dan Diniyah School.
Kedua untuk memenuhi kehendak Umat Islam menjadi Guru di Bengkulu, Tapak
Tuan, Kuala Simpang, Meolaboh, Medan, dll. Sehingga nama Sumatera
Thawalib Padang Panjang semakin masyhur kemana-mana, dan diantaranya
adapula yang menyambung pelajarannya (studi) ke Universitas al-Azhar di
Mesir.
17. Pada tahun 1923 kota Padang Panjang menjadi bumi tempat tumbuh
suburnya pergerakan politik yang terorganisir baik yang telah melibatkan
Thawalib dan Diniyyah aktif mengikuti organisasi tersebut yang
bertujuan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Dimana ketika itu mulai
berkembangpropaganda komunis dengan memakai semboyan ke-Agamaan sehingga
banyak diantara pelajar-pelajar Thawalib dan Diniyah yang terbawa-bawa.
Tetapi setelah Alim Ulama guru-guru besar dari seluruh Thawalib dan
Diniyah mendapat informasi yang lebih jelas mengenai Komunis dengan
ideology Atheisnya, mulailah timbul kesadaran dikalangan Thawalib dan
Diniyah bagaimana perbedaan pergerakan politik Islam dan Komunis itu.
Namun untungnya organisasi pergerakan semakin mantap, walaupun dalam
beberapa hal terdapat kerjasama dalam hal menghadapi kolonialisme dan
imperialisme Barat.
18. Pada ketika pecah pemberontakan rakyat tahun 1926 yang berpusat di
Silungkang Sumatera Barat untuk menentang kekeuasaan Belanda, banyak
juga pelajar-pelajar Thawalib dan Diniyah yang terseret kedalamnya dan
tertangkap, dipenjarakan. Hal tersebut merupakan ujian berat bagi
Thawalib dan Diniyah. Sehingga kecurigaan penguasa penjajahan Belanda
kepada Thawalib dan Diniyah menjadi tajam dan meruncing. Tetapi
Alhamdulillah Thawalib dan Diniyah berjalan terus dan semakin maju
dengan semangat yang tinggi.
19. Pada tahun 1926 di saat-saat Sumatera Thawalib sedang memuncak
kehebatannya, Padang Panjang ditimpa musibah gempa bumi yang amat
dahsyat sekali. Sehingga Sumatera Thawalib menghadapi dua persoalan
besar : 1. Guru Besar Syekh Abdul Karim Amarullah pulang ke kampungnya
di Sungai Batang Maninjau, dan pimpinan tertinggi Perguruan Islam
Sumatera Thawalib pindah kepada Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim dibantu
oleh guru-guru yang lain. Alhamdulillah Sumatera Thawalib berjalan baik
dan semakin maju.
20. Sumatera Thawalib selama ini masih berjalan menurut cara lama ,
belajar duduk bersela di Surau Jembatan Besi, dengan adanya gempa bumi
yang dahsyat itu, seolah menghendaki dengan cepat membangun gedung
perguruan dan asrama yang tertentu, dan untuk itu didapatlah tempat
dijalan Lubuk Mata Kucing tempat komplek Perguruan Thawalib yang ada
sekarang. Dan semenjak itu Perguruan Thawalib sudah berjalan merupai
sekolah yang teratur dengan bangku-bangku dan alat-alat selengkapnya.
21. Tamatan Perguruan Thawalib setiap tahun membanjiri masyarakat umum,
bukan saja untuk menjadi Ulama, tetapi juga untu menjadi Zu’ama (
pemimpin-pemimpin pergerakan), bahkan juga ada yang menjadi pedagang,
pegawai pemerintahdan sebagainya. Padahal semuanya itu masih tetap
menjadi anggota Sumatera Thawalib. Maka dengan sendirinya
pelajar-pelajar dan tamatan-tamatan Sumatera Thawalib itu pada umumnya
tidak saja hanya terbatas dalam lingkungan Perguruan Islam saja, tetapi
sudah meluas merupakan organisasi massa (masyarakat umum).
22. Pada tahun 1928 berlangsung Konfrensi Sumatera Thawalib yang kedua
yang dihadiri utusan-utusan seluruh Sumatera Thawalib memperkuat ikatan
organisasi, yang berhasil dengan terbentuknya Pengurus Besar Sumatera
Thawalib yang baru terdiri dari : 1. H. Djalaluddin Thaib, Voorzitter,
2. Ali Imran Djamil, Secretaris, 3. H. Syu’ib el Junusy, Penningmeester,
4. Doesqi Samad, 5. Thaher By, 6. H.Alaoeddin, 7. Sapardi.J St.
Mangkuto, masing-masing Commissarisen, dengan cabang-cabangnya di
seluruh Perguruan Islam Thawalib yang tersebar dimana-mana. Adapun
perguruan Islam Sumatera Thawalib Padang Panjang, semakin ramai dan maju
di bawah Pimpinan Guru Besar Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim dibantu
oleh guru-guru lain.
23. Kemudian silih berganti konfrensi Sumatera Thawalib berturut-turut,
pada bulan November 1928 di Padang Panjang pada bulan Mei 1929 di Batu
Sangkar, pada bulan Januari 1930 di Bukittinggi. Setiap adanya konfrensi
perkembangannya bertambah baik dan lancar, yang menambah kuat dan
luasnya masyarakat Thawalib.
24. Pada tahun 1928 ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak menjalankan
ordonansi guru-guru Agama yang maksudnya hendak menjalankan kontrol
terhadap guru-guru Agama yang mengajarkan Agama Islam di Minangkabau
ini, maka ketika itu pemimpin-pemimpin Sumatera Thawalib ikut aktif
bersama-sama ninik mamak, Alim Ulama dan cerdik pandai mengumpulkan
seluruh potensi rakyat Minangkabau untuk menolaknya. Akhirnya Pemerintah
Hindia Belanda menarik kembali niatnya yang hendak merugikan bagi Agama
dan Umat Islam. Padahal ordonasi tersebut dudah semenjak tahun 1905
telah dijalankan di tanah Jawa dan Madura dan daerah-daerah lain.
25. Pada tahun 1930 berlangsung kongres pertama dari Sumatera Thawalib
di Bukittinggi. Semangat yang sudah matang dari tamatan-tamatan Thawalib
mempertimbangkan pandangan-pandangan jauh ke masa depan untuk
kepentingan Agama, bangsa dan tanah air, baik dalam bidang politik,
ekonomi, social dan pendidikan. Akhirnya telah membulatkan tekad
persatuan dan perjuangan, terutama dalam menghadapi kekuasaan dan
penjajahan, telah menghantarkan Kongres Sumatera Thawalib tersebut
kepada satu keputusan dengan suara bulat menjadikannya satu organisasi
massa yang lebih kuat bernama “PERSATUAN MUSLIM INDONESIA” yang kemudian
menjadi Partai Politik Islam “PERMI” bermarkas di Padang, dengan surat
kabarnya bernama “MEDAN RAKYAT”. Disamping itu Perguruan Islam Thawalib
berjalan terus di bawah pengawasan Departemen Pendidikan dan Pengajaran
“PERMI”.
26. Pada tahun 1932, seluruh guru dan siswa Thawalib dimanapun di
seluruh cabang-cabangnya serentak sudah merupakan kader pemuda berjuang
menuju Islam Mulia dan Indonesia Sentosa melalui Indonesia Merdeka.
Bahkan disetiap negeri sudah terdapat cabang dan ranting PERMI.
Bagaimanapun juga tekanan kecurigaan penguasa kolonial Belanda, tetapi
semuanya itu tidaklah menyebabkan takut gentar dihari sanubari
siswa-siswa itu yang tegak berdampingan sejejer dengan orang-orang
dewasa anggota-anggota PERMI. Sehingga Thawalib dan PERMI itu tidak
dapat dipisahkan, bukan saja di Sumatera Barat, tetapi juga di Tapanuli,
Sumatera Timur, Aceh, Jambi, Bengkulu, Palembang dan dimana saja
terdapat Perguruan Islam yang berasal dari Thawalib dan Diniyah.
27. Ketika Pemerintah Kolonial Belanda hendak menjalankan ordonnasi
Sekolah Liar (Wilde schoolen Ordonansi) di seluruh Indonesia, maka
seluruh guru dan siswa Thawa;ib serta Diniyah serentak bangkit memprotes
menolak rencana yang sangat merugikan itu, baik terhadap Islam maupun
terhadap masyarakat umum. . Maka banyaklah guru dan siswa Thawalib itu
yang ditangkap dan disakiti. Dan seringkali Perguruan Thawalib digeledah
oleh kaki tangan pemerintah kolonial dengan cara-cara yang kasar dan
zalim. Namun demikian, tiadalah semuanya mengendorkan semangat
perjuangan mereka. Dan suatu ketika Thawalib Padang Panjang mendapatkan
pukulan berat dengan keluarnya larangan mengajar oleh penguasa kolonial
terhadap beberapa orang guru Thawalib, yaitu : 1. Zainal Abidin Ahmad,
2. Ahmad Syukur, 3. Burhanuddin Sutan Pamuncak, 4. Burhanuddin Datuk
Bandaro Sati, 5. Ibrahim Madun, 6. Saydi Umar Sutan Permato, dan 7 Sutan
Syarif Pitalah.
28. Lulusan atau tamatan-tamatan Thawalib semakin meluas memenuhi
seluruh bidang masyarakat, bukan saja menjadi guru, Tuangku-tuangku,
pemimpin-pemimpin masyarakat, tetapi juga dalam bidang-bidang
perdagangan, pertanian, perusahaan, penerbitan, percetakan, bahkan juga
dalam bidang perjuangan politik dan organisasi-organisa massa. Sehingga
banyak dari tamatan Thawalib itu yang menderita ancaman kekuasaan
penjajahan Hindia Belanda, yang masuk penjara, korban bis dan ter,
terjerat pengkap kolonial yang terkenal.
29. Pada tahun 1943 ketika Jepang menguasai Indonesia, tamatan Thawalib
banyak yang melibatkan diri dalam latihan-latihan militer dengan resiko
yang sangat besar. Oleh karena tekanan ekonomi yang sangat buruk ketika
itu, jumlah pelajar Thawalib Padang Panjang agak sedikit menurun.
30. Pada tahun 1945 diproklamirkan kemerdekaan Indonesia, maka
tamatan-tamatan Thawalib membanjir memenuhi segala lowongan untuk
mempertahankan proklamasi dan membina Negara R.I dalam segala bidang
apapun si seluruh Indonesia sedari bawah sampai atas, sedari
pemerintahan negeri sampai pemerintah pusat, baik sipil, angkatan
bersenjata, lapangan diplomatic dan lain sebagainya. Tak dapat disangkal
lagi bahwa Thawalib berhasil memasukkan andil yang sebanyak-banyaknya
dalam Negara R.I.
31. Pada tahun 1946 didirikan Yayasan Thawalib Padang Panjang diketuai
oleh guru besar Tuangku Mudo Abdul Hamid Hakim, dan seluruh milik dan
kekuasaan Thawalib Padang Panjang jatuhlah menjadi hak milik dan
kekuasaan Yayasan tersebut dengan Akte Notaris.
Pelajar-pelajar Thawalib kembali ramai dibanjiri oleh pemuda-pemuda dari
segenap jurusan setiap tahun lebih dari 1000orang, dan setiap tahun
mengeluarkan tamatan Thawalib tidak kurang dari 100 orang.
32. Ada zaman suka dan adapula zaman duka. Dalam saat-saat Perguruan
Islam Thawalib sedang gembira di bawah pimpinan guru besar Tuangku Mudo
Abdul Hamid Hakim, tibalah zaman gelap :
a. Terjadilah pergolakan hebat di Sumatera Barat tahun 1958, keadaan
tidak aman. Guru-guru dan pemuda-pemuda Thawalib ikut dalam pergolakan,
pelajar yang kecil-kecil pulang ke kampong, sekolah ditutup, tinggal
dengan tidak ada penjagaan.
b. Dalam saat yang kritis itu 13 juli 1959, wafatlah Tuangku Mudo Abdul
Hamid Hakim, berpulang kerahmatullah dipanggil Tuhan setelah semenjak
dari mudanya sampai tuanya mencurahkan seluruh tenaganya untuk Agama
Islam umumnya dan untuk mendidik mengasuh Thawalib khususnya.
c. Selama masa lima tahun Thawalib Padang Panjang terhenti dan gedung
perguruan serta asrama-asramanya tinggal dengan tidak ada penjaga bagai
benda yang tidak bertuan. Disana-sini rusak : bocor, hancur dan
sebagiannya sudah rubuh. Sungguh sangat menyedihkan.
33. Pada tahun 1963 dengan tenaga berdikit-dikit dari beberapa orang
pecinta Perguruan Islam Thawalib, dimulai meneruskan kembali. Langkah
pertama ialah melengkapkanPengurus Yayasan, terdiri dari : 1. H. Mansur
Daud Datuk Palimo Kayo, 2.Adam Sutan Tjaniago, 3. Mawardi Muhammad, 4.
H. Kamili, 5. H. Datuk Tumamad, dan beberapa pembantu yang lain-lain.
Maka dibukalah kembali Perguruan Islam Thawalib Padang Panjang dengan
murid sebanyak 23 orang, di gedung Thawalib yang sudah bobrok itu.
Dimana kalau hari hujan anak-anak belajar bagai orang berteduh di bawah
rumpun betung, amat menyedihkan.
34. Ketekunan guru-guru Thawalib di bawah pimpinan Ustadz Mawardi
Muhammad dibantu oleh guru-guru yang lain yang tidak memandang
keuntungan benda (gaji), sungguh-sungguh menjadi modal pertama bagi
pembukaan kembali Perguruan Islam Thawalib Padang Panjang. Karena itu
murid-murid bertambah, dari tempat yang jauh-jauh berangsur datang.
35. Perasaan sedih dan pilu melihat gedung dan asrama-asrama Thawalib
yang bocor, rusak, lapuk, dan sebagian yang sudah rubuh, membangkitkan
kemauan Pengurus Yayasan Thawalib untuk membangun mengganti dengan yang
baru, walaupun tidak samapi hati melihat penderitaan guru-guru yang
telah beekorban demikian rupa dalam menghidupkan kembali Perguruan Islam
Thawalib Padang Panjang, tetapi dalam hal ini tidaklah dapat dikecilkan
sumbangan saudagar-saudagar terutama di kota Padang Panjang.
36. Pada tahun 1964 dibuatlah gamabar rencana pembangunan gedung dan
asrama-asrama serta Mushalla dan lain-lain, yang permanent, untuk
perguruan Islam Thawalib Padang Panjang yang dishahkan oleh Kepala
Jawatan P.U. Kota Padang Panjang, dengan rencana biaya kira-kira tiga
puluh juta rupiah.
37. Pada Pertengahan tahun 1964 dimulai perletakan batu pertama
pembangunan asrama oleh Bapak Wali kota Padang Panjang dengan modal
pertama sejumlah dua belas ribu rupiah. Alhamdulillah dalam tempo
sembilan bulan lamanya, selesailah sebuah gedung asrama ukuran 6 lokal
kali 7x8m yang menelan biaya lebih kurang 30jt rupiah, atas bantuan para
dermawan dan hartawan Muslim. Dan tidak dilupakan antara lain sumbangan
dari saudara Barmansyah dari Jakarta.
38. Pada tahun 1966 di mulai pula pembangunan asrama yang kedua, sebesar
asrama yang pertama juga. Alhamdulillah berkat usaha dan sumbangan dari
dermawan dan hartawan Muslim dakam tempo setahun selesailah asrama yang
kedua. Tinggal lagi hanya menyelesaikan dapur dari kedua asrama
tersebut.
39. Pembangunan ketika ini sedang terhenti, karena kehabisan biaya,
namun demikian alhamdulillah murid-murid sudah bertambah banyak, setiap
tahun semakin meningkat, dan ketika sejarah ini ditulis, murid-murid
sudah mencapai jumlah lebih dari tiga ratus orang dari berbagai pelosok
daerah. Dan guru-gurupun sudah bertambah lengkap juga dengan lebih
menggembirakan.
40. Perencanaan pembangunan selanjutnya adalah : gedung Perguruan Islam
Thawalib dengan ruangan Aula, ruangan kelas untuk belajar, ruangan
perpustakaan., Mushalla tempat beribadah serta tempat latihan
mengembangkan ilmu pengetahuan berdakwah dan sebagainya, Ruang guru dan
pengawas Perguruan, dapur dan temapat mandi. Pengurus Yayasan hendak
mendahulukan pembangunan Mushalla, karena Mushalla termasuk ruang
pelajaran dan pendidikan
41. Pengurus Yayasan Thawalib sedang bergiat, bukan saja hendak
melanjutkan pembangunan gedung-gedung Perguruan Islam Thawalib, tetapi
hendak melanjutkan cita-citadan tujuan Thawalib sedari mula yaitu :
Menumbuhkan kader-kader Alim Ulama dengan sehabis daya upaya,
bersama-sama dengan Umat Islam seluruhnya. Amin ya Rabbal’alamin.